Kulon Progo (MTsN 1 Kulon Progo) – Salah satu masalah terbesar yang tengah dihadapi dunia saat ini adalah pengelolaan sampah. Data statistik dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut jumlah total sampah nasional pada 2021 mencapai 68,5 juta ton. Berbagai program yang diluncurkan untuk mengatasi permasalahan sampah, belum menunjukkan hasil.

Demikian juga di tingkat madrasah, sampah dapat menjadi masalah besar apabila tidak ditangani dengan benar. Untuk itulah, MTsN 1 Kulon Progo mengadakan Workshop Pemilahan dan Pengolahan Kompos Organik yang diikuti oleh dua puluh siswa, beberapa guru, dan pegawai yang tergabung dalam pokja sampah pada Tim Adiwiyata 2022, Senin (25/05/22). Kegiatan berlangsung di ruang laboratorium IPA mulai pukul 09.00 WIB dan dibuka oleh Kepala Madrasah, Drs. Legiman, M.S.I. Hadir sebagai narasumber, Ari Budiyarto, S. E. dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kulon Progo.

Dalam sambutannya, Kamad Legiman mengatakan bahwa kegiatan workshop ini merupakan program madrasah dalam rangka menjadi madrasah rintisan Adiwiyata. Dengan adanya workshop ini, diharapkan warga madrasah terutama para siswa dapat semakin menyadari pentingnya kebersihan dan pengelolaan sampah agar memiliki nilai guna.

“Melalui workshop pemilahan dan pengolahan sampah terutama sampah organik menjadi kompos ini, saya berharap pokja sampah yang hadir sebagai peserta dapat terlebih dahulu mengetahui cara memilah dan mengelola sampah agar bermanfaat sehingga dapat memiliki nilai jual,” ujar Legiman.

Selanjutnya, narsum kegiatan, Ari Budiyarto menyampaikan pentingnya pengelolaan sampah di lingkungan madrasah agar asri dan adiwiyata. Selama ini pengolahan sampah di sekolah atau madrasah masih sangat minim, tidak sebanding dengan sampah yang dihasilkan setiap harinya. Ari juga menjelaskan jenis-jenis sampah dan cara untuk memilah dan mengolahnya dengan metode 3R (Reduce, Reuse, Recycle).

“Menerapakan metode 3R merupakan salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk mengelola sampah di madrasah. 3R merupakan singkatan dari reduce (mengurangi sampah), reuse (menggunakan ulang sampah), dan recycle (mendaur ulang sampah). Hal ini dapat mengurangi penggunaan bahan yang sulit didaur ulang seperti plastik. Tidak hanya mengurangi timbunan sampah, tetapi dapat memanfaatkan sampah organik seperti sisa makanan, buah, dan sayuran sebagai pupuk kompos. Kegiatan mendaur ulang sampah menjadi barang baru yang bernilai guna juga harus dicoba. Contohnya dengan merangkai sampah bekas bungkus kemasan menjadi beragam kerajinan yang unik dan menarik,“ tutur Ari. 

Pada akhir kegiatan, peserta diajak untuk mempraktikkan cara memilah dan mengolah sampah organik menjadi kompos. Dengan penuh antusias, peserta berusaha menerapkan apa yang telah diajarkan oleh narasumber. Setelah kegiatan, diharapkan para siswa peserta dapat menjadi pelopor bagi teman-temannya untuk selalu hidup bersih dan dapat memilah serta mengolah sampah dengan tepat. (sep)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.